Resolusi 2015: Optimism is a Duty


Farhan

Farhan Helmy @farhanhelmy

Karl Popper adalah salah seorang filosof yang saya kagumi sejak mahasiswa yang mungkin juga banyak mengilhami dan mencerahkan banyak kawan saya di era 80-90an ketika tekanan terhadap dunia kemahasiswaan pasca NKK/BKKnya, Daoed Jusuf, Mendikbud saat itu, begitu gencar-gencarnya. Sibuk ikutan untuk berkelana dengan berbagai aliran pemikiran saat itu dari kiri-kanan-tengah, domestik maupun impor:)- Marx, Engels, Weber, Gramsci, Adam Smith, Habermas, MADILOG, Potter, Karl Popper, Ali Sariati, Paulo Freire, Erich Fromn, Post-Modern,Green Movement, bahkan sampai ke pemikir Ijtihad Islam, Fazlur Rahman sekalipun yang terpaksa ntah untuk urusan apa terpaksa saya lahap. Walaupun kadang-kadang cuma bangga hanya mengkoleksinya, itupun sambil ketakutan digrebeg. Maklum di masa itu banyak dari yang beginian dianggap barang terlarang untuk dimiliki dan dipelajari. Dan mungkin sampai saat ini masih dianggap hantu, walaupun kita sudah masuk ke era digital sekalipun, yang memungkinkan berbagai sumber yang dulu ramai-ramai dipelajari sembunyi-sembunyi bisa diakses secara bebas saat ini.

Bagi saya yang berlatar belakang eksakta, adanya satu metodologi empirik, betul-betul sangat meringankan saya untuk memahami berbagai fenomena sosial saat itu. Maklum saat itu saya masuk dalam kelompok, Bergerak Duluan, Berfikir Kemudian. Bersatu kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh!!:)Saya banyak mengkoleksi buku Popper yang sangat luas spektrumnya, The Open Society and Its Enemies,The Poverty of Historicism, The Logic of Scientific Discovery, Conjectures and Refutation: The Growth of Scientific Knowledge dan beberapa kumpulan karangan ataupun pidatonya sepertiUnintended Quest: An Intellectual Autobiography, dan All Life is Problem Solving. Akhir-akhir ini menyempatkan kembali membongkar bukunya di saat senggang setelah melihat berbagai soal yang memang akhir2 ini mengemuka dan ramai diperbincangkan orang, dari mulai kebebasan berpendapat, NEOLIB, pelanggaran HAM, dll.

Salah satu yang membuat saya tercerahkan dan mungkin menaruh minat banyak perhatian saat itu ketika Popper menguraikan teori soal, body and mind problem. Popper menganggap sangat serius soal ini ketika mencoba menjelaskan berbagai persoalan fundamental diantaranya soal kebebasan, human freedom, kehidupan politik, maupun dalam kerangka yang lebih luas – hubungan antara posisi manusia dengan segala aktivitasnya dengan dunia fisik/alam.

Dalam Notes on A Realist on the Body-Mind Problem, Popper membagi realitas itu kedalam apa yang dia sebut sebagai World 1 (W1), World 2 (W2) dan World 3 (W3). W1 adalah dunia fisik,yang kita lihat dan rasakan langsung keberadaanya. W2 kesadaran subyektif seringnya berupa berbagai konstruksi pemikiran tentang sesuatu termasuk misalnya dalam merealisasikan W1. Didalamnya bisa teori, pengetahuan, dsb. W3 adalah realitas obyektifnya, dimana baik W1 dan W2 diuji dalam realitas. Pengaruh W3 terhadap W1, hanya mungkin dilakukan melalui perantaraan W2. Untuk memberikan yang lebih gamblang, Popper mencontohkannya soal bangunan pencakar langit.

Pencakar langit adalah dunia fisik (W1)yang bangunannya terdiri dari gabungan berbagai material fisik. Bangunan ini tidak mungkin berdiri kalau tidak ada suatu konstruksi pengetahuan sipil atau pengetahuan lainnya yang memungkinkan bangunan berdiri, merekat satu sama lain. Termasuk hitung-hitungan beban supaya bangunan itu tidak roboh. Ini contoh dari dunia W2. Andaikan bangunan itu roboh(realitas W3), maka disini muncul berbagai kemungkinan kesalahan dari soal pemahaman subyektif (W2), a false subjective belief, atau kegagalan dalam memahami realitas obyektif (W3), a false objective theory.

Mungkin ada kebuntuan ketika kita mencoba memahami realitas saat ini yang super dinamik, yang datang bersamaan dan susul menyusul, layaknya reaksi fusi dalam Fisika. Salah satu kerumitan kompleksitas sistem yang dicoba dicari jawabnya sama Popper di masa lalu. Mungkin bisa jadi kita punya soal dalam mengurai kesalahan W2 dan W3. Atau mungkin juga kita belum paham betul dinamika diantara ketiganya. Sehingga kita terperangkap masuk dalam situasi kebuntuan. Mungkin akan kelihatan ada polanya, kalau kita sejenak mencoba mendalaminya.

Saya sepakat dengan pendapat untuk membuang jauh-jauh cara berfikir “POST” dari sesuatu – Post Kolonial, Post-Suharto, dan post2 lainnya. Yang membuat kita terperangkap ke masa lalu, dan melihat masa depan sebagai rangkaian peristiwa statik dari proyeksi sejarah masa lalu dengan abstraksi pilihan yang terbatas. Ini tidak berarti kita mengesampingkan bahkan melupakan sejarah masa lalu sebagai acuan atau contoh pengalaman. Juga tidak diartikan untuk tidak menggugat berbagai kegagalan dan praktek yang kurang pas dan menyimpang dimasa lalu. Ataupun ahistoris, terhadap pengalaman perjalanan bangsa-bangsa lainnnya di dunia. Bangsa ini bangsa yang besar dan unik. Ada lebih dari 17.000 pulau dengan lebih dari 200 Juta orang yang hidup di atasnya. Mengunjungi satu hari satu pulau sekalipun, mungkin diperlukan lebih dari 40 tahun (17.000 pulau/360 hari):). Abstraksi masa depan semestinya berbeda dengan tempat lain, walaupun mungkin dalam beberapa hal ada persinggungan pola seperti bangsa/negara lain.

Kita mesti melihat abad ini sebagai babad baru dengan berbagai potensi kemungkinan, the age of new possibilities, di segala lini. Terbukanya ruang baru untuk berperan dalam mengekspresikan berbagai inovasi institusi di berbagai bidang, yang tidak hanya di ruang domestik bahkan global. Globalisasi dalam pandangan saya telah mengarah kepada mediasi penataan kepentingan serta pembangunan etika dan moral universal yang menembus segala bidang dan wilayah teritorial melalui skema yang lebih membumi. Mungkin dialog soal perubahan iklim global adalah salah satu diantaranya.

Sisi lain, barangkali kitapun sudah menjadi saksi sejarah dari transformasi warga dalam berinteraksi disosial media. Saat ini pengguna Facebook Indonesia sudah melebihi 65 Juta orang, demikian juga Twitter yang sudah melebihi 30 juta pengguna aktif. Hany soal waktu, warga akan menjadi otonom dalam berbagi informasi dan pengetahuan apapun. Menjadi warga yang kreatif, inovatif dan menjadi corong dalam mengontrol berbagai penyimpangan yang terjadi. Bahkan menjadi elemen penting dalam pembangunan etika dan moral yang lebih universal dan luas yang tidak mengenal batas teritorial. Ini suatu pergeseran yang luar biasa di segala lini. Dan mungkin kita semua punya kesempatan menjadi bagian dari promotor, penggerak, atau mungkin pelakunya.

Saya kira perdebatan soal model mana yang pas dalam mengorganisasikan diri, real vs. virtual, bukan saja sudah tidak relevan lagi menjadi fokus. Interaksi dunia real-virtual sudah bergabung menjadi satu dan tidak bisa dipisahkan lagi satu sama lain. Keterhubungan dan kecepatan interaksi menjadikan semua transaksi apapun menjadi sangat hyper-mobility. Produksi barang2 dan interaksi fisik mengalami proses dematerialisasi, dematerialization. Contoh yang paling kongkrit publikasi dan alat baca digital (e-Reader) yang akan menggantikan dan sekaligus menjadi alternatif lain dari publikasi bebasis kertas. Juga berbagai interaksi teleconference multimedia bebasis PC bahkan handphone.

Sassen (2006), dalam Territory, Authority, Rights: From Medieval to Global Asemblage, mengamatinya lebih jauh lagi. Saat ini kita sedang mengalami proses yang mengarah pada pencarian keseimbangan baru diantara ketiganya (teritori,kewenangan dan hak),misalnya soal hubungan antara publik dan privat. Tentunya dalam setiap pencarian skema dan model pengorganisasi baru ini, selalu melibatkan pertarungan kepentingan. Tantangan kita saat ini adalah bagaimana mencari model-model yang pas agar ketiganya bisa masuk kedalaam skema dan model yang lebih adil sehingga terbangun suatu kultur mediasi kepentingan yang sehat.

Dalam dunia integrated assessment and policy modeling yang saya tekuni, terbuka pada semua opsi dan kemungkinan dalam melihat persoalan, merupakan elemen kunci dalam merancang suatu kebijakan yang efektif. Tidak kalah pentingnya, berdialog dengan siapapun yang berkemungkinan akan mempengaruhi atau terpengaruh. Dalam perilaku sistem kita mengenal bahkan ada dormaint failure, kesalahan fatal yang tidak kita duga sama sekali sebelumnya, dan itu menempel terus pada sistem kita tanpa kita sadari. Mungkin, disinilah arti penting wisdom of crowd untuk memahami keadaan dan membangun konsensus untuk menyelesaikannya.

Memang tidak ada konsep dan bahasa yang netral untuk mengekspresikan posisi politik dalam suatu konteks moral, bahkan di Amerika yang sudah maju demokrasinya sekalipun, seperti yang diungkap secara gamblang oleh Lakoff (1996), Moral Politics: How Liberals and Conservatives Think. Namun membiarkannya ini berlangsung di ruang publik tanpa aturan, bukan saja ini menunjukkan bahwa kita tidak memiliki kosa-kata moral yang bisa dipakai sebagai acuan secara kolektif, tapi lebih dalam lagi. Memang kita tidak sedang berproses membangun suatu sistem moral yang utuh, dan membiarkannya diinterpretasikan oleh siapapun, yang cepat atau lambat di masa depan akan membawa bangsa ini ke kehancuran. Mudah-mudahan kita bukan bagian organik dari pembiakan virus ini.

Apa yang saya ingin ungkapkan soal Popper ini bukan semata ingin memuji tokoh yang hebat ini, tapi ingin memberikan gambaran begitu seriusnya di masa lalupun, bahkan sekelompok mahasiswa saat mendialogkan soal-soal bangsanya. Walaupun kelihatannya bagi saya dan kawan-kawan yang berada pada masa itu dan menjalankannya seperti tidak ada sistematikanya. Tetapi kalau kita renungkan ada dasarnya yang kuat. Suatu keinginan keluar dari tirani keterbelakangan, dan masuk kedalam babad peradaban yang lebih terbuka dan adil. Suatu keinginan untuk menyusun suatu abstraksi masa depan Indonesia yang lebih baik lagi.

Menyedihkan memang, akhir-akhir ini kita menyaksikan berbagai iklim dialog yang mulai tumbuh diantara warga yang mulai otonom berbagi pengetahuan, kreativitas atau informasi apapun mulai dihantui oleh libido-libido paranoid yang ingin menghambat pencerahan untuk memperbaiki keadaan Indonesia yang kita cintai ini menjadi lebih baik lagi. Ironisnya, yang semestinya menjadi petunjuk arah, banyak intelektual dan tokoh moral sudah menjadi bagian organiknya.

Saya ingin kita semua tetap semangat melawan terus penyebaran virus ini, dan tetap optimis menghadapi tahun 2015 yang penuh dengan tantangan dan dinamika. Seperti apa yang dikatakan Popper, tokoh pemikir yang saya kagumi ini, Optimism is a duty! Saat menyampaikan pidatonya, The Necessity of Peace, saat menerima penghargaan Otto Hahn Peace Medal di Berlin, 17 Desember 1993.

The Future is open. It is not fixed in advance. So no one can predict it – except by chance. The possibilities lying within the future, both good and bad, are boundless. When I say, Optimism is a duty, this means not only that the future is open but that we all help to decide it through what we do. We are jointly responsible for what is to come. So we all have a duty, instead of predicting something bad, to support the things that may lead to a better future.

Selamat Tahun Baru 2015, tetap semangat dan optimis bagi Indonesia Masa Depan yang lebih baik!

Farhan Helmy saat ini sebagai Manager Indonesia Climate Change Center(ICCC), program kegiatan dibawah naungan Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI), untuk mendorong pengembangan kebijakan perubahan iklim berbasis sains. Aktif di berbagai inisiatif untuk mendorong aksi progresif dibidang sains, seni dan pendidikan melalui inisiatif Green Voice Indonesia (GVI).

Iklan