Risiko dan Isomofisme


Risiko dan Isomorfisme dalam Adaptasi Perubahan Iklim

ARTIKEL penulis yang bertajuk “Tanggung Jawab Sosial untuk Beradaptasi terhadap Perubahan Iklim” yang diajukan ke Buletin Adaptasi milik DNPI mendapatkan sambutan dari salah seorang pembaca, dalam bentuk pertanyaan. Pertanyaannya, “Benarkah Jalalperusahaan begitu “lugu” hingga tak mampu melihat kaitan perubahan iklim dengan kelangsungan bisnisnya, ataukah ada faktor lain yang begitu ‘seksi’ hingga perusahaan sulit untuk mengabaikan godaannya?”

Secara umum, perusahaan-perusahaan yang menerapkan manajemen risiko yang baik—misalnya dengan standar COSO atau ISO 31000—mengetahui risiko apa saja yang terkait dengan bisnisnya. Hanya saja, sangat mungkin perusahaan-perusahaan itu tidak mengaitkannya dengan perubahan iklim. Buku terbaru Naomi Klein, This Changes Everything: Capitalism Vs. The Climate (2014) dibuka dengan sebuah cerita yang sangat menarik. Di musim panas 2012, Penerbangan 3935 dari Washington DC menuju Charleston, South Carolina, gagal terbang. Penyebabnya bukan kelebihan beban atau kerusakan mesin, melainkan karena aspal di bandara itu meleleh dan menyebabkan roda pesawat melesak sedalam 10 cm.

Juru bicara maskapai penerbangannya kemudian menyatakan bahwa penyebab dari kondisi tersebut adalah “very unusual temperatures.” Dan, tak ada penjelasan lebih lanjut mengenai apa penyebab temperatur yang tidak biasa itu. Kebanyakan maskapai penerbangan dan perusahaan di sektor apapun masih berada di dalam penyangkalan bahwa perubahan iklim sudah dan akan terus terjadi. Atau, mereka sekadar belum menyadari kondisi tersebut. Kadang-kadang, penyebabnya adalah belum jelasnya hubungan di antara sebuah fenomena dengan perubahan iklim. Namun kali lain, karena mereka memilih untuk tidak mengaitkannya walaupun sudah sangat jelas hubungannya.

Hampir pasti, kedua pilihan itu juga yang dihadapi oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia. Mereka belum paham dampak perubahan iklim atas bisnisnya, atau mereka masih ada dalam penyangkalan. Mereka tahu bahwa kerugian akibat banjir dan kekeringan sebetulnya cenderung semakin besar setiap tahunnya. Bencana alam yang terkait dengan perubahan iklim semakin lama semakin banyak dan kerap, namun—sama dengan maskapai penerbangan itu—mereka juga bisa memilih untuk sekadar berhenti di gejala seperti “gagal panen”, “banjir”, “kekeringan”, “kelangkaan air”, dst.

Reaksi mereka juga bisa bersifat sementara atau di permukaan. Mereka bisa pindah ke daerah “bebas banjir”, mencari sumber pasokan lain atau lebih banyak, atau daerah dengan sumber air yang lebih berlimpah. Namun, bentuk-bentuk reaksi seperti ini tentu saja temporer, dan apabila perusahaan-perusahaan dan seluruh pemangku kepentingan tidak juga menyadari bahwa mereka harus melakukan adaptasi yang komprehensif atas perubahan iklim—serta tindakan mitigasi yang juga komprehensif—maka solusi temporer itu pada akhirnya akan menyebabkan mereka berhenti berbisnis.

Perusahaan memang jauh lebih paham masalah bila sudah melihatnya sebagai risiko yang penting dan urgen untuk ditangani. Namun untuk itu mereka perlu untuk belajar alifbata perubahan iklim dan dampaknya terlebih dahulu. Dampak perubahan iklim terhadap bisnis memang bisa langsung—sehingga mudah untuk dipahami—namun bisa juga tidak langsung, seperti perubahan kemampuan rantai pasokan, kondisi yang dihadapi masyarakat dan konsumen, atau perubahan regulasi yang dibuat oleh pemerintah. Untuk itu, perusahaan perlu mendapatkan banyak sekali masukan dari pemangku kepentingan yang lebih paham tentang dampak perubahan iklim dan bagaimana adaptasi terhadapnya harus dilakukan.

Secara teoretis, kalau kita menginginkan perusahaan di Indonesia lebih responsif terhadap perubahan iklim, maka kita bisa mengupayakan berbagai hal, sesuai dengan teori tertentu. Salah satu teori yang menjelaskan perubahan perilaku perusahaan adalah Teori Isomorfisme, yang memiliki dua varian utama, yaitu Isomorfisme Kompetitif dsn Isomorfisme Institusional. Isomorfisme Kompetititif (Hannan dan Freeman, 1977) menjelaskan bahwa perusahaan akan berubah perilakunya secara kolektif manakala persaingan di antara mereka semua menuntut menjadi demikian. Perusahaan akan beramai-ramai melakukan adaptasi atas perubahan iklim bila pada akhirnya mereka tahu bahwa adaptasi itu menguntungkan secara ekonomi. Demikian yang diyakini para penganut Isomorfisme Kompetitif.

Isomorfisme Institusional (DiMaggio dan Powell, 1983) lebih rumit. Ia memiliki tiga mekanisme, yaitu Koersif, Mimetik, dan Normatif. Koersif berarti perubahan perilaku perusahaan karena paksaan formal (mis. regulasi) dan informal (mis. desakan pemangku kepentingan). Paksaan itu bisa muncul secara keras maupun lembut, atau berupa undangan, yang apabila tidak diikuti maka perusahaan akan merasakan tekanan yang lebih besar. Dalam hal ini, apabila pemerintah Indonesia membuat regulasi yang kokoh tentang adaptasi perubahan iklim dan menegakkannya, maka bisa menjadi bentuk mekanisme ini. Demikian pula, bila misalnya KADIN membuat semacam petunjuk bagaimana melakukan adaptasi, lalu mengumpulkan perusahaan-perusahaan yang mau menegakkannya dengan sungguh-sungguh. Perusahaan yang tak tergabung di dalamnya mungkin akan merasakan tekanan itu.

Mekanisme Mimetik berarti peniruan yang dilakukan oleh perusahaan, biasanya terhadap perusahaan lain yang dianggap paling progresif dalam sektor yang sama atau beda namun terkait erat. Ketika perubahan iklim tidak benar-benar dimengerti oleh kebanyakan perusahaan dalam sebuah sektor, namun perusahaan yang selama ini dianggap paling progresif melakukan tindakan-tindakan adaptif, maka perusahaan lainnya kemungkinan besar akan mengikutinya. Mereka akan belajar dalam proses peniruan itu, dan pada akhirnya paham bahwa memang demikianlah yang seharusnya. Untuk itu, mereka yang mau mempromosikan adaptasi perubahan iklim bisa mengajak perusahaan-perusahaan progresif ini, dan menyebarluaskan praktik-praktiknya kepada perusahaan lain.

Terakhir, mekanisme normatif terkait dengan profesionalisasi para pekerja bidang tertentu. Dalam hal ini, bila para staf, manajer, dan direktur lingkungan perusahaan-perusahaan telah menjadi paham soal adaptasi perubahan iklim, maka perusahaan di mana mereka bekerja akan lebih mudah menerima adaptasi perubahan iklim sebagai perilaku yang normal, bukan hal yang aneh. Oleh karena itu, mereka yang memperjuangkan adaptasi perubahan iklim di Indonesia perlu untuk membuat peningkatan kapasitas—pengetahuan, sikap dan perilaku—secara masif di antara profesional pengelola dampak lingkungan perusahaan. Kurikulum belajar adaptasi perlu dibuat dan disebarkan dalam bentuk forum belajar, seminar, dan pelatihan.

Jadi, cara untuk menyebarkan adaptasi perubahan iklim di antara perusahaan itu memang beragam, dan mungkin harus ditempuh semuanya. Menjelaskan bahwa adaptasi membuat perusahaan semakin kompetitif, membuat regulasi pemerintah dan petunjuk adaptasi bagi perusahaan, menunjukkan apa yang sudah dilakukan oleh perusahaan-perusahaan progresif, serta meningkatkan kapasitas pengelola lingkungan perusahaan adalah jalan-jalan itu. Kalau itu semua dijalankan, godaan yang tak penting—walaupun tampak ‘seksi’ dalam jangka pendek—akan mudah diabaikan, dan perusahaan-perusahaan di Indonesia bisa menjalankan adaptasi perubahan iklim dengan konsisten.

Jalal saat ini sebagai Chairperson of Advisory Board Social Investment Indonesia (SII),  lembaga konsultan yang didedikasikan untuk mengembangkan dan menyebarkan spirit dan praktek terbaik investasi sosial di Indonesia.

Iklan