Antara Elkington dan Puan


Antara Tuan Elkington dan Puan Maharani
Sebuah Perbandingan Pemikiran CSR
 
Jalal

Saya tak bisa berada di Bali untuk menyaksikan secara langsung hajatan besar the JalalASEAN Next Generation CSR Forum yang diselenggarakan tanggal 3-6 Februari 2015.  Jadual lain yang sudah menumpuk membuat tangan dan kaki saya terikat untuk tetap ada di dekat-dekat Jakarta pada tanggal-tanggal itu.  Tentu, kerugian besar buat saya kalau tak memasang mata dan telinga di sana.  Karena itu, beberapa rekan yang hadir di sana menjadi penolong saya untuk memahami apa yang sedang terjadi. 

Sesuai jadual yang ada, kemarin pagi bintang pertemuan tersebut, John Elkington, bicara.  Sang penemu konsep triple bottom line itu bicara soal pemikiran mutakhirnya.  Pada hari yang sama, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani, juga berbicara mewakili Pemerintah RI.  Kontak saya dengan seorang rekan yang hadir di sana ditutup dengan “Semoga apa yang akan disampaikan perwakilan Pemerintah tidak (terlampau) memalukan.”
 
Tepat seperti yang diperkirakan, Elkington terutama berbicara mengenai substansi buku terbarunya, The Breakthrough Challenge (2014).  Buku yang ditulis bersama dengan Jochen Zeitz—mantan CEO Puma, sangat terkenal karena membuat dan mempromosikan laporan environmental profit and loss—itu bicara mengenai apa saja yang dibutuhkan untuk memastikan bahwa dunia bisa mencapai kondisi keberlanjutan.  Kondisi itu, menurut Elkington, memang hanya bisa dicapai bila perusahaan-perusahaan segera melakukan berbagai terobosan yang dibutuhkan. 
 
Secara umum, sepuluh terobosan itu adalah: mengadopsi tujuan berbisnis yang benar; menciptakan struktur perusahaan yang baru; menerapkan prinsip-prinsip akuntansi yang benar; menghitung return yang sebenarnya; menerima konsep kesejahteraan manusia yang lengkap; menyeimbangkan lapangan bermain; mengejar transparensi penuh; meredifinisikan pendidikan; belajar dari alam; serta, terus memanfaatkan perspektif jangka panjang.  Dalam presentasinya di Bali, Elkington menyatakan perlunya kelembagaan internasional untuk membuat terobosan-terobosan itu terwujud.
 
Apa yang disampaikan itu jelas merupakan kelanjutan dari apa yang sudah dituangkan dalam buku-buku karya Elkington, terutama yang dituangkan dalam dua buku sebelumnya, The Power of Unreasonable People (bersama Pamela Hartigan, 2008) dan The Zeronauts (2012).  Dalam The Power, Elkington dan hartigan menggambarkan bagaimana para pebisnis sosial benar-benar memanfaatkan bisnisnya untuk memecahkan beragam masalah ekonomi-sosial-lingkungan yang dihadapi oleh masyarakat.  Dalam The Zeronauts, Elkington menekankan juga bahwa selain memberi manfaat, para pebisnis progresif juga bekerja keras untuk benar-benar membuat mudarat menjadi nol. 
 
Intinya, Elkington secara sangat canggih memberikan landasan kokoh bahwa niat berbisnis yang benar adalah membantu masyarakat memecahkan masalah mereka hadapi, sekeras mungkin berupaya meniadakan mudarat dalam proses bisnis dan produknya, dan setinggi mungkin membawa manfaat.  Untuk bisa demikian di level global, maka ada berbagai terobosan yang perlu dilakukan, sebagaimana yang ia sampaikan di pertemuan di Bali kemarin.  Dengan pemikiran seperti itu, pantaslah ia mendapatkan julukan “the Dean of CSR movement for three decades” dari majalah terkemuka The Business Week.        
 
Bila Tuan Elkington begitu progresif pemikirannya, tak demikian dengan apa yang disampaikan oleh Puan Maharani. Tentu, keras dugaan saya bahwa ini bukanlah pemikiran Puan sendiri, melainkan dituliskan oleh orang lain, “staf ahli”-nya.  Namun, apa yang disampaikannya tentu bisa dianggap sebagai sikap resmi pemerintah Indonesia atas CSR. Dan, dengan pemberitaan media massa yang gencar tentang acara tersebut, termasuk dan terutama isi pidato Puan, semua orang bisa tahu bagaimana sikap tersebut.
 
Sikap itu tak pernah beranjak jauh dari reduksi makna CSR menjadi sekadar dana perusahaan yang dipergunakan untuk kegiatan “sosial”, yaitu kegiatan di luar bisnis inti.  Berbagai media massa jelas menyiarkan penggunaan frasa “anggaran CSR” yang dipergunakan Puan.  Bahwa penggunaan dana itu dipikirkan sekadar untuk mendukung program Pemerintah, walau dibungkus dengan konsep kemitraan.  Bahwa reduksi makna CSR menjadi pengembangan masyarakat oleh perusahaan juga sangat kental, yang bisa dilihat dari penyebutan program apa saja yang telah dan bisa dilakukan oleh perusahaan (mis. kesehatan, perumahan, air dan sanitasi).  Dan—yang paling mengejutkan—adalah meminta bantuan perusahaan internasional untuk membangun wilayah terpencil karena pemerintah sulit untuk mendatangi tempat-tempat tersebut.
 
Ini menunjukkan tak ada kemajuan sama sekali dalam pemikiran Pemerintah Indoneesia setelah sekian lama bersentuhan dengan wacana dan praktik CSR perusahaan.  Pemikiran primitif-reduksionis tetap saja menjadi ciri yang tak kunjung hilang.  CSR di mata Pemerintah Indonesia tak pernah bergeser dari C$R, sekadar dana perusahaan yang diminta untuk disumbangkan.  Pemerintah Indonesia tak kunjung sadar bahwa sesungguhnya CSR minimal adalah “at least do no harm” sebagaimana yang sudah dirumuskan para pakar sejak berdekade lampau. 
 
Mengincar dana perusahaan, tanpa mendesak perusahaan untuk menghilangkan mudaratnya telah membuat Indonesia menjadi negeri penuh kontradiksi di mata para pakar CSR.  Perusahaan-perusahaan yang mencuri dan menyerobot tanah negara dan tanah rakyat bisa dianggap sebagai perusahaan dengan komitmen CSR yang tinggi lantaran pemiliknya doyan menyumbang sana-sini.  Perusahaan-perusahaan yang menyemburkan emisi GRK ke atmosfer dalam jumlah raksasa bisa mengklaim ber-CSR ketika menanam sekian ribu pohon saja, yang tentu menyerap emisi jauh lebih kecil dibandingkan dengan yang dikeluarkannya.  Perusahaan-perusahaan yang produknya meracuni hidup puluhan juta orang secara langsung, dan ratusan juta orang secara tak langsung, bisa mendapatkan penghargaan CSR lantaran punya andil dalam menyumbang acara-acara olahraga dan memberikan segelintir beasiswa.
 
Kapan kontradiksi seperti itu akan diakhiri di negeri ini?  Kapan bisnis benar-benar bisa menjadi kontributor positif untuk pembangunan?  Kapan bisnis tak bisa mengelak lagi dari tanggung jawab atas mudarat yang diproduksinya?  Itu tergantung sepenuhnya dari bagaimana Pemerintah Indonesia mengubah pemahamannya atas CSR.  Ketika Pemerintah Indonesia menolak untuk ditipu oleh, atau bersekongkol dengan, perusahaan-perusahaan pendusta CSR, maka kita akan mulai melihat kontradiksi itu berakhir.  Siapa tahu, dunia bisnis di Indonesia kemudian juga bisa mengeluarkan komitmen gagah seperti—yang kemarin dinyatakan oleh Richard Branson dan seluruh anggota The B Team, yang mana Elkington juga adalah anggotanya—emisi GRK nol dengan mitigasi dan offset pada tahun 2050.    
 
Saya tahu, kita tak bisa mengharapkan Puan Maharani berbicara tentang transformasi radikal tujuan bisnis seperti Tuan Elkington.  Kelasnya terlampau jauh.  Tapi, sesungguhnya wakil Pemerintah Indonesia itu pantas untuk menyatakan bahwa bangsa ini menuntut bisnis untuk tidak lagi menebar mudarat semaunya; tidak menerima lagi bentuk-bentuk “CSR” yang sekadar menutup-nutupi mudarat itu; dan benar-benar berharap perusahaan bisa menjadi mitra pemerintah dan masyarakat sipil dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.
 
Sejujurnya, saya sangat tergoda untuk menganjurkan Presiden Jokowi dan seluruh jajaran kabinetnya membaca 3 buku terakhir Elkington—karena mereka telah kehilangan kesempatan belajar dari Elkington secara langsung di Bali—tapi saya tak yakin mereka memahami betapa pentingnya mengubah tata cara perusahaan berbisnis sebagai cara untuk mencapai tujuan Indonesia.
 
Jalal, mendapatkan kepercayaan sebagai Reader on Political Economy and Corporate Governance. Jalal seorang aktivis yang menaruh minat pada pentingnya perusahan memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan (Corporate Social Responsibilty). Sehari-hari aktif sebagai Chairperson of Advisory Board Social Investment Indonesia (SII),  lembaga konsultan yang didedikasikan untuk mengembangkan dan menyebarkan spirit dan praktek terbaik investasi sosial di Indonesia.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s