Revolusi Sumberdaya


Revolusi Sumberdaya: Akankah Cukup untuk Menyelamatkan Manusia?

Sebuah Apresiasi dan Kritik atas Gagasan Stefan Heck dan Matt Rogers dalam “Resource Revolution: How to Capture the Biggest Business Opportunity in a Century” (2014)

 At this moment in time, almost everything being donein the name of sustainability entails attempts to reduce unsustainability. But reducing unsustainability, although critical, does not and will not create sustainability (John Ehrenfeld)

ARGUMENTASI win-win dalam menyelamatkan dunia selalu sangatlah menarik. Bagaimana tidak? Kita diberikan keyakinan bahwa ternyata manusia bisa menghindari berbagai Jalalkonsekuensi negatif dari tindakannya di masa lalu hingga sekarang, mendapatkan masa depan yang lebih baik, dan menghasilkan keuntungan finansial yang berlimpah dalam mengupayakannya. Siapapun yang menyatakan hal tersebut biasanya akan mendapatkan perhatian dari banyak kalangan, terutama dari mereka yang bergelut di sektor swasta, atau mereka yang menggunakan mekanisme pasar untuk melakukan perubahan ke arah yang diinginkan.

Heck dan Rogers adalah salah satu di antara sekian banyak pemikir yang memberikan Resource Revolutionargumentasi tersebut. Argumentasi utamanya ada tiga: “(1) Combining information technology, nanoscale-materials science, and biology with industrial technology yields substantial productivity increases. (2) Achieving high-productivity economic growth in the developing world to support the 2.5 billion new members of the middle class presents the largest wealth-creation opportunity in a century. (3) Capturing these opportunities will require new management approaches.”

Berapa peningkatan produktivitas yang bisa dicapai dengan menggabungkan teknologi tersebut? Menurut Heck dan Rogers, “Rather than settling for historic resource-productivity improvement rates of one to two percentage points a year, leaders must deliver productivity gains of 50 percent or so every few years.” Walaupun angka yang diajukan tidaklah eksak, namun peningkatan tersebut sungguh menggoda untuk diketahui lebih lanjut bagaimana caranya. Mereka kemudian menjelaskan lebih lanjut dalam bukunya, bahwa cara-cara yang dapat ditempuh itu terdiri dari lima strategi besar, yaitu:

  • Finding opportunities to substitute away from scarce resources and into new, higher-performance materials. For example, Hampton Creek Foods has developed a plant-based egg substitute called Beyond Eggs that uses peas, sorghum, beans, and other plants to make a product that tastes like, and has the same nutritional properties, as eggs. The product can be used in baked goods and mayonnaise at lower cost, less risk, and better performance.
  • Eliminating waste throughout the system. The guiding principle was made famous by Toyota as kaizen—to drain the swamp so the rocks become visible. This means measuring inputs (materials, energy, and water), outputs (pollution and effluent), and waste factors in between (scrap, idle machines, changeover time, or other interruptions). For example, EcoMotors is redesigning engines to increase efficiency and improve fuel economy.
  • Increasing “circularity”— upgrading, reusing, or recycling products. The rule of thumb is that the tighter the loop, the greater the value captured and the stronger the competitive differentiation. Reusing a phone is more valuable than reusing a microchip, which is more valuable than extracting gold and silver. ATMI has turned e-waste recycling into a highly competitive gold mine. Boeing and Alcoa have developed a high-return, closed-loop system for airplane parts.
  • Optimizing efficiency, convenience, safety, and reliability. The guiding question should be “What expensive assets are used only a small portion of the time, or what energy-intensive equipment is active without performing a function?” Komatsu and Caterpillar are turning traditional heavy-duty construction equipment into services. All lend themselves to IT solutions that optimize routing, timing, loading, preventive maintenance, or sharing.
  • Moving products, services, and the processes that develop or deliver them out of the physical world and into the virtual realm–as Apple has done by turning music, movies, newspapers, bank statements, cameras, and flashlights into apps. General Atomics took the pilot out of the airplane and opened up the world of drones. The opportunity is not to use innovation in an incremental way, but rather to reinvent the product and the industry, making things ten times better, delighting the customer in wholly new ways, and creating whole businesses in the process.

Contoh-contoh yang diberikan dalam buku tersebut membuktikan bahwa banyak perusahaan progresif yang telah menjalankannya. Keuntungan ekonomi yang didapat dari berbagai peningkatan efisiensi yang cukup drastis juga dengan sangat jelas dipaparkan. Siapapun yang menjadi pemimpin dalam dunia industri tentu akan tertarik dengan angka-angka keuntungan tersebut. Namun, sangat jelas pula bahwa belum ada perusahaan progresif yang dapat mereka nyatakan telah menggunakan seluruh strategi di atas secara optimal. Buku ini juga tak berbicara soal berapa besar efisiensi maksimum yang telah berhasil dicapai ketika, misalnya, perusahaan-perusahaan itu telah menggunakan lebih dari satu strategi di atas. Hal ini, tentu saja, bisa dipandang sebagai kekurangan bukti, namun juga bisa dilihat sebagai ruang perbaikan yang sangat besar bagi mereka yang ingin mencoba kombinasi strategi-strategi itu.

Tetapi, jujur saja, hingga bagian tersebut, belum ada ide yang benar-benar baru. Lima belas tahun sebelum buku Heck dan Rogers terbit, Paul Hawken, Amory Lovins dan Hunter Lovins telah menuliskan Natural Capitalism: Creating the Next Industrial Revolution (1999). Di dalamnya termuat empat prinsip, yaitu: “(1) radically increase the productivity of natural resources, (2) shift to biologically inspired production models and materials with closed loops, no waste, and no toxicity, (3) move to a “service-and-flow” business model that rewards the first two shifts, and (4) reinvest in natural capital. Along the way, companies will necessarily adopt new technologies, new manufacturing processes, and new management practices—all of which will drive innovation faster.” Kalau lima strategi Heck dan Rogers dibandingkan dengan empat prinsip Hawken, et al. sesungguhnya terlihat bahwa Hawken et al. malahan lebih unggul karena ada prinsip keempat, yaitu reinvestasi dalam sumberdaya alam. Alam yang mengalami degradasi tentu perlu campur tangan manusia untuk menjaga yang masih baik dan memulihkan yang buruk.

Terkait dengan efisiensi yang diperjuangkan untuk dicapai melalui berbagai strategi di atas, penting untuk diingat bahwa perhitungan tingkat efisiensi yang diperlukan oleh kita untuk bisa ada dalam kondisi mendekati keberlanjutan sesungguhnya sangatlah tinggi. Menurut Wuppertal Institute, seharusnya efisiensi memang bisa dilakukan hingga Factor 10 alias memotong 90% konsumsi, sehingga benar-benar bisa berarti untuk upaya menuju keberlanjutan. Masalahnya, efisiensi pemanfaatan materi dan energi yang dilakukan oleh perusahaan masih ada pada tataran yang sangat remeh. Dalam kitab karangan Peter Dauvergne dan Jane Lister bertajuk Eco-business: A Big-Brand Takeover of Sustainability (2013), sangat jelas betapa remehnya upaya-upaya yang dilakukan oleh kebanyakan perusahaan. Mereka mengklaim menjalankan ekoefisiensi, padahal yang mereka lakukan hanyalah mengganti bola lampu dan menempelkan stiker yang mengingatkan untuk mematikan lampu dan pendingin ketika menginggalkan ruangan.

Kebanyakan bisnis memang keterlaluan malasnya, dan kebangetan dalam keinginan mempromosikan diri. Dan di sini sebetulnya nilai tertinggi dari buku Heck dan Rogers. Mereka menunjukkan bahwa seandainya saja perusahaan-perusahaan itu memeriksa perkembangan teknologi mutakhir, maka mereka akan tahu persis sehebat apa efisiensi yang mungkin mereka lakukan. Contoh-contoh dari perusahaan yang ditampilkan oleh Heck dan Rogers sangatlah menarik. Apalagi, mereka kemudian menampilkan adanya 12 jenis bisnis yang kemungkinan besar akan tumbuh pesat dalam 20 tahun mendatang, dengan menerapkan kelima strategi yang mereka rumuskan itu. Ke-12 bisnis itu adalah:

(1) Maximum Oil Recovery Enterprise (MORE) companies would get more oil from wells. They would use advanced sensor networks and operating techniques to recover 60 to 70 percent of the oil in every field, up from the traditional 20 to 30 percent. (2) Efficient Resilient Grid Operator (ERGO) businesses would capitalize on the shift from an analog, hub-and-spoke power grid toward an integrated digital network. (3) HOme Unified SErvices (HOUSE) firms would reach into homes more completely than security, utility, and media companies do today, using data from mobile devices to provide services enhancing comfort and convenience. (4) Convenient Organizer Service for Travel (COST) companies would efficiently handle travel details, such as rides, rooms, and tickets to events. (5) Global Recovery of Waste (GROW) companies would be the most profitable miners, using microfluidic technologies to recover high-value products in waste streams: gold and silver from consumer electronics, lithium from geothermal effluent, and high-value rare-earth metals from electronics, for instance. (6) WAter DElight (WADE) firms would use nonchemical-purification techniques and mineralization technologies to provide high-quality water for agriculture and the world’s best drinking water. (7) Fresh Organic Opportunities Delivered (FOOD) companies would be global, integrated organizations that locally produced high-quality, nutritious food using one-tenth of the water and energy of existing methods. (8) Lightweight Innovation Technology Engineering (LITE) enterprises would make carbon fiber cheaper than aluminum. Cars, trucks, ships, planes, and buildings will become safer and more efficient (and more pleasing, aerodynamic, and comfortable). (9) Government Operations Verified (GOV) firms would be low-cost service providers that let governments use standardized technology platforms to deliver personalized services. (10) SEnsor Network SOlutions (SENSO) companies would give businesses trillion-point, integrated sensor networks and access to a marketplace of algorithmic analyses of sensor data. (11) Equipment As Service for You (EASY) enterprises would expand the experience many companies have with software as a service by developing businesses based on equipment as a service, but on a larger scale than today’s rental companies. (12) Basics All Supplied in Container (BASIC) firms would serve emerging markets and offer companies access to some of the least advantaged people in these regions by delivering essential infrastructure in rugged containers.

Arahan tersebut tentu saja sangat bermanfaat dan menarik bagi kebanyakan perusahaan. Tapi apakah memang akan membawa kepada kondisi keberlanjutan yang kita—ini adalah asumsi—inginkan? Kalau kita lihat jenis bisnis pertama, MORE, yang akan membuat perusahaan-perusahaan minyak kembali mengambil cadangan terbukti yang tadinya sudah tak lagi ekonomis, tentu ini agak mengkhawatirkan. Bukankah kita hanya memiliki waktu satu dekade untuk stabilisasi emisi dan mulai menurunkannya? Mengangkat minyak dari Bumi dan membakarnya—apalagi diramalkan akan booming dalam waktu 20 tahun ke depan—tampaknya bukan pilihan yang layak untuk dipertimbangkan. Walaupun kita tentu saja percaya bahwa dalam 10 hingga 20 tahun ke depan minyak akan tetap memiliki peran signifikan dalam bauran energi, tetapi menjelaskan MORE sebagai pilihan bisnis yang mengarahkan kepada keberlanjutan tentu akan membuat banyak pihak terhenyak.

Dalam kaitannya dengan perubahan iklim, kita telah menyaksikan munculnya banyak buku yang meyakinkan kepada kita bahwa sesungguhnya secara teknologi kita memang telah bisa mengatasinya. The Clean Tech Revolution (Ron Pernick dan Clint Wilder, 2007), Ten Technologies to Fic Energy and Climate (Chriss Goodall, 2009), juga Our Choice: A Plan to Solve the Climate Crisis (Al Gore, 2009) telah secara masif mengungkapkan eksistensi teknologi itu. Seluruhnya mengungkapkan kenyataan yang pertama kali diangkat oleh artikel Pacala dan Socolow (2004) tentang Stabilization Wedges, yaitu bahwa teknologi yang ada pada 10 tahun lalu sesungguhnya sudah bisa dipergunakan untuk melakukan mitigasi emisi hingga 40 tahun ke depan.

Kalau masalahnya bukan di teknologi—walau jelas kita terus berharap teknologi terus membaik untuk membuat kemungkinan mitigasi dan adaptasi yang lebih baik—lalu apa? Apakah teknologi yang ada itu terlampau mahal sehingga pasar dan/atau masyarakat memilih untuk tidak memanfaatkannya? Tampaknya bukan juga. The Stern Review on the Economics of Climate Change (2006) mengungkapan bahwa kita mampu untuk berinvestasi dalam mengatasi perubahan iklim. Delapan tahun kemudian, dengan pemahaman yang semakin baik, kita juga disuguhi oleh laporan dari The Global Commission on the Economy and Climate yang diberi judul Better Growth, Better Climate—The New Climate Economy Report (2014). Di situ dibuktikan bahwa bukan saja kita mampu membayar biaya investasi untuk mengatasi perubahan iklim, namun bahwa kita akan mendapatkan keuntungan finansial untuk melakukannya. Jadi, tak ada keraguan lagi soal kemampuan teknologi dan keuntungan ekonomi itu.

Pertanyaannya kemudian apakah yang menghambat pemakaian teknologi dan insentif ekonomi itu? Demikian juga, apakah yang membuat kekuatan-kekuatan lain—misalnya gerakan lingkungan, kesadaran konsumen—juga seakan tak berdaya? Mengapa adanya teknologi yang menghasilkan efisiensi dan mengundang insentif ekonomi itu belum juga berhasil membalik kecenderungan peningkatan emisi? Mengapa intensitas emisi yang menurun tak diiringi dengan penurunan emisi secara mutlak? Tentu, populasi yang terus bertambah adalah salah satu penjelasannya, namun tentu bukan satu-satunya. Berbagai industri yang tadinya menikmati keuntungan ekonomi yang sangat besar tentu tak rela bila kemudian kehilangan apa yang mereka nikmati. Menurut Joel Magnusson dalam The Approaching Great Transformation: Toward a Livable Post-Carbon Economy (2013) pasar itu sangatlah jarang dikuasai oleh mereka yang paling efisien, melainkan oleh mereka yang paling berkuasa. Merchants of Doubt (2010) karya Naomi Oreskes dan Eric Conway membuktikan bahwa industri bahan bakar fosil memang berada di balik gangguan munculnya teknologi bersih. Oleh karena itu, logika tekno-ekonomi saja tidak memadai untuk diharapkan memecahkan masalah ini. Teknologi yang mengancam akan terus disembunyikan bahkan dibunuh sebelum membahayakan, dan insentif ekonomi untuk teknologi seperti itu akan coba disingkirkan lewat cara-cara yang kasar.

Tentu, buku Heck dan Rogers ini bukannya tak berarti. Mereka berdua berhasil menambahkan amunisi bagi yang ingin berargumentasi dari sisi teknologi dan ekonomi, terutama pendekatan pasar. Namun, argumentasi mereka perlu dilengkapi dengan pengetahuan bagaimana memastikan bahwa seluruh kekuatan lainnya—gerakan individu, masyarakat sipil, dan pemerintah—juga mengarah kepada titik pertemuan yang sama. Dan, pengetahuan itu harus menjadi tindakan nyata. Secara berkolaborasi kita perlu menghilangkan seluruh hambatan yang datang dari mereka yang menikmati dan berusaha mati-matian mempertahankan bentuk teknologi dan ekonomi masa lampau. Sampai skala dan kecepatan usaha kolektif kita memadai untuk membalik kecenderungan kondisi Bumi yang makin rusak ini, kita semua masih belum aman. Lebih jauh daripada itu, mengutip pendapat John Ehrenfeld dan Andrew Hoffman dalam Flourishing: A Frank Conversation about Sustainability (2013) keberlanjutan bukanlah hanya soal survival (menghindari kondisi yang buruk), melainkan adalah masalah flourishing (mewujudkan kondisi yang jauh lebih baik). Dan, kondisi yang jauh lebih baik itu bukanlah sekadar soal keuntungan ekonomi untuk perusahaan belaka.

Jalal saat ini sebagai Chairperson of Advisory Board Social Investment Indonesia (SII),  lembaga konsultan yang didedikasikan untuk mengembangkan dan menyebarkan spirit dan praktek terbaik investasi sosial di Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s